Minggu, 21 Maret 2010

Biografi Abu Hurairah

BAB I
PENDAHULUAN

Makalah ini adalah makalah yang kedua dari tiga makalah yang diberikan bapak dosen kepada saya, itu artinya dalam satu semester saya harus mempresentasikan dua makalah untuk satu mata kuliah, yaitu Al-qur'an wal Hadits. Padahal teman-teman saya masing-masing hanya mendapat satu kali presentasi saja. Benar atau tidak, ini adalah suatu kelebihan yang harus saya syukuri. Saya yakin teman-teman pasti iri, karena mereka hanya mendapat satu, sedangkan saya mendapat dua.
Kalau boleh saya ibaratkan, Ketika ada beberapa murid mendapat hadiah dari guru mereka, yang satu mendapat dua, sedangkan yang lainnya masing-masing mendapat satu, apa yang terjadi? Sudah barang tentu akan membuat iri teman-teman yang mendapatkan satu hadiah.
Makalah ini bermula dari pertanyaan saya tentang periwayatan hadits Abu Hurairah yang melebihi hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat. Dengan pertanyaan yang tidak mendasar dan tanpa disertai bukti atau referensi, saya menyatakan bahwa telah terjadi "Kongkalikong" antara Abu Hurairah dan Muawiyah dalam periwayatan hadits-hadits Nabi.
Bermula dari itulah bapak dosen DR. Zuhad MA. Memberikan saya sebuah tugas makalah baru yang kemudian disambut dengan ucapan "selamat" dari teman-teman saya atas tugas ini. Wah seneng lo, ketiban durian.
Sebenarnya tulisan ini tidaklah pantas disebut makalah, ia adalah hanya sebuah ringkasan kecil dan pendek dari sebuah kitab "Hadits Nabi sebelum dibukukan". Karena kurangnya referensi dalam penulisannya, maka tulisan ini saya tampilkan seadanya.
Ada beberapa pembahasan yang kami tulis dalam makalah ini, diantaranya adalah: biografi Abu Hurairah, pujian terhadap Abu Hurairah, tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Abu Hurairah.
Dan terakhir, sesuai dengan perkataan bapak dosen, diharapkan teman-teman akan mendengarnya dengan khusuk.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Abu Hurairah
Abu Hurairah r.a. dilahirkan 19 tahun sebelum Hijriyah. Nama kecil beliau sebelum memeluk agama Islam tidak diketahui dengan jelas, tetapi pendapat yang mashyur adalah Abd Syams. Nama Islamnya adalah Abd al-Rahman. Beliau berasal dari qabilah al-Dusi di Yaman. Abu Hurairah r.a. memeluk Islam pada tahun 7 Hijriyah ketika Rasulullah S.A.W. berangkat menuju ke Khaibar. Ketika itu ibunya masih belum menerima Islam bahkan menghina Nabi. Abu Hurairah r.a. lalu bertemu Rasulullah S.A.W. dan meminta baginda berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah r.a. menemui ibunya kembali, mengajaknya masuk Islam. Ternyata ibunya telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Setelah pulang dari Perang Khaibar, Rasulullah S.A.W. memperluas Masjid Nabawi ke arah barat dengan menambah ruang sebanyak tiga tiang lagi. Abu Hurairah r.a. turut terlibat dalam perluasan masjid ini. Ketika dilihatnya Rasulullah S.A.W. turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya. Rasulullah S.A.W. menolak seraya bersabda, "Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat."
Abu Hurairah r.a. pernah salah dalam menimbang makanan yang lezat sehingga dia dikenakan hukuman dipukul oleh Rasulullah S.A.W. Bagaimanapun Abu Hurairah r.a. gembira "Karena Nabi menjanjikan akan memberi syafaat kepada orang yang pernah merasa disakitinya baik secara sengaja atau tidak," katanya.
Begitu cintanya kepada Rasulullah S.A.W. sehingga siapa pun yang dicintai, ia ikut mencintainya. Misalnya,ia suka mencium Hasan dan Husain, karena melihat Rasulullah S.A.W.mencium kedua cucunya itu.
Gelar Abu Hurairah r.a. adalah karena kegemarannya bermain dengan anak kucing. Diceritakan pada suatu masa ketika Abu Hurairah r.a. bertemu Rasullullah S.A.W. dia ditanyai apa yang ada dalam lengan bajunya. ketika dia menunjukkan anak kucing yang ada dalam lengan bajunya lantas dia digelar Abu Hurairah r.a. oleh Rasullullah S.A.W. Semenjak itu dia lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah r.a..
Abu Hurairah r.a. berpindah ke Madinah untuk mengadu nasib. Di sana ia bekerja menjadi buruh kasar bagi siapa yang memerlukannya Sering kali dia mengikatkan batu ke perutnya, kerana menahan lapar yang amat sangat. Malah diceritakan bahwa dia pernah berbaring berhampiran mimbar masjid sehingga orang menyangka dia kurang waras. Rasullullah S.A.W. yang mendengarkan masalah tersebut, segera menemui Abu Hurairah r.a. yang menjelaskan bahawa dia berbuat sedemikian kerana lapar, lalu Rasullullah S.A.W. pun segera memberinya makanan.
Abu Hurairah r.a. adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi S.A.W. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah, yaitu orang-orang miskin atau sedang menuntut ilmu dan tinggal di halaman masjid. Beliau begitu dekat dengan Nabi S.A.W., sehingga baginda selalu menyuruh Abu Hurairah r.a. untuk mengumpulkan ahli shuffah, jika ada makanan yang hendak dibagikan.
Abu Hurairah r.a. berhasil meriwayatkan banyak hadis karena beliau sentiasa dekat dengan Rasulullah selama 3 tahun, setelah memeluk Islam. Ini sebagaimana yang di riwayatkan olehnya :
"... sesungguhnya saudara kami daripada golongan Muhajirin sibuk dengan urusan mereka di pasar dan orang-orang Ansar pula sibuk bekerja di ladang mereka sementara aku seorang yang miskin senantiasa bersama Rasulullah S.A.W. ‘Ala Mil’i Batni. Aku hadir di majlis yang mereka tidak hadir dan aku hafal pada masa mereka lupa." (HR. Bukhari)
Pada mulanya Abu Hurairah r.a. mempunyai ingatan yang lemah lalu beliau mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah lalu mendoakan agar Abu Hurairah r.a. diberkati dengan daya ingatan yang kuat lalu semenjak hari itu Abu Hurairah dikurniakan dengan daya ingatan yang kuat yang membuat beliau mampu meriwayatkan jumlah hadis terbanyak di kalangan para sahabat.
Walaupun Abu Hurairah r.a. merupakan seorang yang miskin pada mulanya, ia telah dipinang oleh salah seorang majikannya yang kaya raya untuk putrinya, Bisrah binti Gazwan. Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah pandangan seseorang dari membedakan kelas kepada menyanjung keimanan. Abu Hurairah r.a. dipandang mulia karena kealiman dan kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.
Sejak menikah, Abu Hurairah r.a. membagi malamnya kepada tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadits. Ia dan keluarganya tetap hidup sederhana walaupun telah menjadi orang berada. Abu Hurairah r.a. suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan memberi sedekah rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.
Abu Hurairah adalah orang yang taat beribadah, ia berpuasa pada siang hari dan shalat pada malam hari. Ia adalah orang yang bersih jiwanya dan murah hati. Ia mencintai kebaikan, menghormati tamu-tamunya, dan tidak kikir dengan apa yang dimilikinya. Kemiskinan tidaklah membuat ia kikir dan merendahkan diri dengan meminta-minta kepada orang lain. Bahkan, ia lebih memilih lapar daripada memakan sisa-sisa makanan.
Rasulullah S.A.W. pernah mengutuskan Abu Hurairah r.a. berdakwah ke Bahrain bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami r.a. Dia juga pernah diutus bersama Quddamah r.a. untuk mengutip jizyah di Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.
Mungkin disebabkan oleh kepercayaan Rasulullah itu, Abu Hurairah r.a. diangkat menjadi gubernur Bahrain ketika Umar r.a. menjadi Amirul Mukminin. Tapi pada 23 Hijrah, Umar r.a. memecatnya kerana Abu Hurairah r.a. dituduh menyimpan uang yang banyak hingga 10,000 dinar. Ketika disidang, Abu Hurairah r.a. berhasil membuktikan bahwa harta itu diperolehnya dari berternak kuda dan pemberian orang. Khalifah Umar r.a. menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu dia diminta menerima jabatan Gubernur kembali, tapi Abu Hurairah r.a. menolak.
Penolakan itu diiringi lima alasan. "Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku tidak mau disebat; aku tak mau harta benda hasil pencarianku disita; dan aku takut nama baikku tercemar," katanya. Dia memilih untuk tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.
Khalifah Umar ibn Khattab r.a. pula pernah melarang Abu Hurairah r.a. menyampaikan hadis dan hanya membolehkan menyampaikan ayat Al-Quran. Ini disebabkan tersebar kabar angin bahwa Abu Hurairah r.a. banyak memetik hadis palsu. Larangan khalifah baru dibatalkan setelah Abu Hurairah r.a. mengutarakan hadits mengenai bahaya hadits palsu. Hadis itu berbunyi:
"Barangsiapa yang berdusta padaku (Nabi S.A.W.) secara sengaja, hendaklah mempersiapkan diri duduk dalam api neraka." Hadis ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad ibn Hanbal."
Ketika kediaman Amirul Mukminin Ustman ibn Affan r.a. dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenal sebagai al-fitnatul kubra (fitnah/bencana besar), Abu Hurairah r.a. bersama 700 orang Muhajirin dan Anshar tampil mengawal rumah tersebut. Meski dalam keadaan siap untuk bertempur, Khalifah Ustman ibn Affan r.a. melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.
Pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. , Abu Hurairah r.a. menolak tawaran menjadi gubernur Madinah. Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia bersikap tidak memihak dan menghindari fitnah. Setelah Muawiyah berkuasa, Abu Hurairah r.a. dilantik menjadi gubernur Madinah setelah diusulkan oleh Marwan ibn Hakam. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78 tahun.
Kapan sebenarnya Abu Hurairah meninggal? Ada beberapa perbedaan pendapat tentang kapan Abu Hurairah meninggal. Hisyam bin Urwah berkata, "Abu Hurairah dan Aisyah meninggal pada pada tahun 57 H." Ini adalah pendapat al-Madaini dan Ali bin al-Madini. Abu Ma'syar berkata, "Abu Hurairah meninggal pada tahun 58 H." Al-Waqidi berkata, "Abu Hurairah meninggal pada tahun 59 H dalam usia 78 tahun. Ia menshalatkan Aisyah, pada bulan Ramadhan, tahun 58 H, dan Ummu Salamah, pada bulan Syawal, tahun 59 H. Kemudian setelah itu, ia meninggal pada tahun 59 H.
Ibnu Hajar, setelah menyebutkan riwayat al-Waqidi tentang meninggalnya Abu Hurairah pada tahun 59 H, ia berkata, "ini adalah diantara kesalahan al-Waqidi karena Ummu Salamah masih hidup sampai tahun 61 H."
Dalam Shahih Muslim ditegaskan hadits yang menunjukkan hal ini. Kenyataannya, wanita yang dishalatkan Abu Hurairah, kemudian ia meninggal pada tahun yang sama, adalah Aisyah, sebagaimana dikatakan oleh Hisyam bin Urwah, "bahwa keduanya (Abu Hurairah dan Aisyah) meninggal pada tahun yang sama.
Abu Hurairah r.a. meninggalkan sebanyak 5,374 hadis. Hadis Abu Hurairah r.a. yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim berjumlah 325 hadis, oleh Bukhari sendiri sebanyak 93 hadis, dan oleh Muslim sendiri 189 hadits. Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. juga terdapat dalam kitab-kitab hadits lainnya.
B. Pujian terhadap Abu Hurairah
Kepada Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda :
"Sungguh saya telah menduga bahwa tidak ada seorang yang menanyakan hadits ini kepadaku lebih awal dari pada kamu karena saya melihat engkau mempunyai semangat untuk mengetahui hadits"
Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Abu Hurairah adalah wadah ilmu"
Abdullah bin Umar berkata, "Hai Abu Hurairah, engkau adalah orang yang paling menyertai Rasulullah saw dan paling mengetahui hadits beliau diantara kami,"
Ibnu Umar ditanya, "Apakah engkau mengingkari suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah? Ibnu Umar menjawab, tidak. Ia adalah orang yang berani (bertanya kepada Rasulullah saw).
Dalam suatu riwayat, Ibnu Umar berkata, "Abu Hurairah itu lebih baik dari pada saya dan lebih mengetahui tentang hadits yang diriwayatkan". Ibnu Umar banyak bermurah hati kepada Abu Hurairah. Katanya, "Abu Hurairah itu salah seorang yang melindungi hadits Rasulullah saw untuk kaum muslimin.
Ubai bin Ka'ab berkata, "Abu Hurairah adalah orang yang berani bertanya kepada Nabi saw tentang hal-hal yang kami tidak menanyakannya kepada beliau".
Thalhah bin Ubaidillah berkata, "Kami tidak meragukan bahwa Abu Hurairah mendengar hadits yang tidak kami dengar".
Zaid bin Tsabit berkata, kepada orang yang bertanya kepadanya tentang sesuatu, "Engkau harus bertanya kepada Abu Hurairah".
Ka'ab al-Ahbar berkata, "Saya tidak melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahi kandungan kitab itu dibandingkan Abu Hurairah".
Muhammad bin Umarah bin Amar bin Hazam berkata, "…Maka, pada hari itu, saya mengetahui, Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal tentang hadits Rasulullah saw…" Penilaian ini dikemukakan oleh Ibnu Umarah ketika ia menghindari majelis ilmu Abu Hurairah yang dihadiri oleh para senior sahabat Rasulullah saw dan Abu Hurairah meriwayatkan hadits kepada mereka. Sebagian dari mereka tidak mengetahui hadits yang disampaikannya, kemudian mereka saling bertanya tentang haditsnya, kemudian akhirnya mereka mengetahuinya.
Abu Shalih as-Saman berkata, "Abu Hurairah adalah sahabat Rasulullah saw yang hafal (tentang hadits-hadits beliau).
Imam Syafi'I berkata, "Abu Hurairah adalah perawi hadits yang paling hafal (hadits) pada masanya.
Al-Bukhari berkata, "Sekitar delapan ratus ahli ilmu meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah dan ia adalah perawi hadits yang paling hafal (hadits yang diriwayatkan) pada masanya".
Imam adz-Dzahabi (673-748) berkata, "Abu Hurairah adalah orang yang hafal hadits yang ia dengar dari Rasulullah saw dan yang paling bisa menyampaikan hadits sesuai dengan huruf-hurufnya". Pada bagian lain, adz-dzahabi berkata, "Abu Hurairah adalah orang yang dapat dipercayai hafalannya. Kami tidak mengetahui ia melakukan kekeliruan tentang hadits".
Ibnu Kasir (w. 773 H) berkata, "Abu Hurairah adalah orang yang sangat jujur, sangat baik hafalannya, taat beragama, tekun beribadah, bersifat zuhud, dan beramal soleh".
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852) berkata, "Abu Hurairah adalah perawi hadits yang paling hafal (hadits yang diriwayatkan) pada masanya dan tidak ada seorang pun sahabat Rasulullah saw yang meriwayatkan hadits sebanyak yang ia riwayatkan".
Ini adalah pengungkapan sedikit berlebihan dan sedemikian banyak kelebihan yang diakui oleh para pakar ilmu terhadap Abu Hurairah. Keluasan ilmu dan banyaknya jumlah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah diketahui oleh setiap muslim. Pujian orang lain kepada Abu Hurairah yang dikemukakan diatas hanyalah dimaksudkan untuk mengenang dirinya.
C. Tuduhan-Tuduhan yang dilontarkan kepada Abu Hurairah
Banyak pengkaji tidak senang melihat Abu Hurairah dalam kedudukan yang luhur dan tinggi. Mereka adalah an-Naddham, al-Marisi, dan al-Balkhi, dan pada masa kini, sebagian orientalis, seperti Goldzicher dan Sybranger. Kecendrungan dan kehendak hati mendorong mereka untuk menyajikan gambaran tentang Abu Hurairah dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Mereka menilai bahwa ia bersahabat dengan Rasulullah karena maksud-maksud tertentu, untuk mengisi perutnya dan memuaskan kerakusaannya.
Mereka menggambarkan sifat amanah Abu Hurairah sebagai sifat khinayah, sifat murah hatinya sebagai kemunafikan, daya hafalannya sebagai polesan untuk menutupi kekurangannya, banyaknya jumlah hadits yang diriwayatkan sebagai perbuatan bohong dan dusta atas Rasulullah saw. Mereka menilai kemiskinannya sebagai cela dan aib, sikap rendah hatinya sebagai suatu perbuatan yang hina, dan sifat periang serta humorisnya sebagai celotehan yang tidak ada gunanya.
Mereka menggambarkan amar ma'ruf nahi munkar yang dilakukannya sebagai bentuk taktik untuk mengelabui orang banyak. Mereka menilai sikapnya menjauhkan diri dari pemberontakan-pemberontakan sebagai sikap memihak (kepada satu kelompok) dan perkataannya yang benar sebagai perkataan yang didasari atas kepentingan pribadi. Mereka menganggapnya sebagai antek para penguasa Bani Umayah yang terbungkam di bawah ketiak mereka sehingga ia menjadi alat bagi mereka untuk mencapai tujuan-tujuan politik mereka.
Dengan penilaian seperti diatas maka menurut pandangan mereka, Abu Hurairah orang yang mendustakan dan memalsukan hadits-hadits atas nama Rasulullah. Demikianlah pendapat sebagian orang terdahulu dan sekarang (orientalis) yang menurutkan kehendak hati mereka tentang Abu Hurairah. Lebih mengherankan lagi, sebagai ilmuwan, mereka meragukan Abu Hurairah dan Sunnah Rasulullah saw.
Selain dari tuduhan-tuduhan diatas, masih banyak lagi tuduhan-tudahan buruk yang dilontarkan kepada Abu Hurairah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, diantaranya adalah tuduhan yang lontarkan oleh Abdul-Husain Syarafad-Din dan Abu Rayyah. Mereka menuduh bahwa Abu Hurairah mencuri sepuluh ribu dinar ketika ia menjabat sebagai gubernur Bahrain pada masa pemerintahan Khalifah Umar. Kemudian Umar memberhentikan dan memukulnya dengan cambuk sampai berdarah.
Diantara tuduhan terhadap Abu Hurairah adalah bahwa ia berpihak kepada para penguasa dinasti Bani Umayah dan patron mereka, bahwa ia memalsukan hadits atas nama Rasulullah saw untuk menghadapi lawan-lawan mereka dan mempertahankan politik mereka.
Diantara yang dikemukakan oleh Abdul –Husain tentang Abu Hurairah dan dinasti Bani Umayah adalah bahwa dinasti Bani Umayah memikat Abu Hurairah dengan kebajikan-kebajikan mereka, kemudian mereka mengikatnya, menjerat pendengaran, penglihatan, dan hatinya, sehingga akhirnya ia menjadi penyambung lidah politik mereka. Ia menyusun langkah-langkah sesuai dengan keinginan mereka. Maka, pada suatu kali, ia membuat-buat hadits yang menegaskan kelebihan-kelebihan mereka, dan pada kali yang lain, ia membumbui cerita-cerita tentang kelebihan-kelebihan Khalifah Muawiyah dan Marwan untuk menuruti keinginan-keinginan Muawiyah dan kelompok politiknya yang berlaku tidak adil.
Apakah Abu Hurairah membuat hadits-hadits palsu atas Rasulullah? Abdul-Husain dan Abu Raiyah menuduh Abu Hurairah berbuat dusta dengan membuat-buat hadits atas Rasulullah saw untuk mengambil hati dan memuaskan dinasti Bani Umayah, dan sebaliknya, mendiskreditkan kelompok Ali (Alawiyin).
An-nazhzham, tokoh Muktazilah, memberikan penilaian tidak benar kepada Abu Hurairah atas banyaknya jumlah hadits yang diriwayatkannya. Penilaiannya ini diikuti oleh sebagian pendukung Muktazilah terdahulu, seperti Bisyri al-Marisi dan Abul-Qasim al-Balkhi.
Ibrahim bin Siyar an-Nazhzham menyebutkan bahwa Abu Hurairah berkata, "Umar, Utsman, Ali dan Aisyah r.a. menilai Abu Hurairah berdusta.
Bisyri al-Marisi berkata dari Umar bin Khattab bahwa Umar berkata, "Perawi hadist yang paling berdusta adalah Abu Hurairah.

BAB III
KESIMPULAN/PENUTUP

Kesimpulan
Dari ringkasan diatas maka dapat kita simpulkan beberapa hal yang berkenaan dengan Abu Hurairah, diantaranya adalah:
1. Abu Hurairah adalah salah satu sahabat Rasulullah yang masuk islam pada tahun 7 H. Nama Islamnya adalah Abd-Rahman sedangkan nama jahiliahnya adalah Abdu Syam
2. Gelar Abu Hurairah r.a. adalah karena kegemarannya bermain dengan anak kucing.
3. Abu Hurairah bersahabat dengan Nabi saw selama 4 tahun dan untuk mengabdi kepada beliau demi kehidupannya, ia menjadikan ash-Shuffah sebagai tempat tinggalnya.
4. Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Abu Hurairah oleh orang-orang terdahulu dan yang pada masa kini (orientalis) tidaklah benar.

Penutup
Demikianlah ringkasan ini kami rangkum, mudah-mudahan ada manfaatnya. Kami yakin bahwa ringkasan ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran, masukan dan kritik yang konstruktif sangat kami harapkan demi sempurnanya tulisan ini. Thanks a lot kami ucapkan kepada teman-teman dan khususnya kepada honourable teacher bapak DR. Zuhad MA. Selaku dosen mata kuliah Al-Quran Hadits.




Tulisan ini dirangkum dari buku: "As-Sunnah Qablat Tadwim "
karangan
DR. M. Ajaj al-Khatib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar